Hilangnya Rimba Kalimantan
HILANGNYA RIMBA KALIMANTAN

Kalimantan di masa lalu kerap digambarkan sebagai pulau yang ditumbuhi hutan hujan tropis lebat dan dihuni aneka ragam hayati. Di pulau ini pula, jejak hunian Homo sapiens paling awal di Nusantara ditemukan. Selama ribuan tahun, orang-orang Kalimantan hidup bersimbiosis dengan alam.
Namun, rimba belantara itu mengalami perubahan dramatis hanya dalam setengah abad terakhir. Dimulai oleh penebangan hutan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, pengeringan lahan-lahan gambut, hingga alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit dan penambangan, bentang alam di pulau ini mengalami kerusakan yang nyaris tanpa bisa dipulihkan kembali.
Ekstraksi yang melebihi daya dukung alam itu telah mendatangkan bencana lingkungan. Selain kebakaran hutan dan kabut asap yang mendera hampir setiap tahun, banjir besar kini melanda Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan. Berikut hikayat yang mengisahkan evolusi Pulau Kalimantan dari hutan hujan tropis yang sangat kaya menjadi wilayah yang sangat rentan bencana.
Era Rimba Tua Kalimantan
Kalimantan, atau yang dulu dinamakan sebagai Borneo, merupakan pulau terbesar ketiga di dunia dan telah ditumbuhi dengan hutan hujan tropis sejak sekitar 130 juta tahun lalu. Bahkan, hutan tropis dataran rendah pulau ini diperkirakan telah ada sejak 140 juta tahun lalu.
Proses panjang evolusi dan kondisi geografis di sabuk khatulistiwa yang diberkahi keberlimpaan sinar matahari dan hujan membuat hutan Kalimantan telah menjadi rumah dari beragam spesies flora dan fauna yang sulit dicari padanannya di dunia. Sekitar 10.000 sampai 15.000 spesies tanaman berbunga (pernah) ditemukan di sana. Jumlah ini 40 kali lipat lebih banyak dibandingkan keragaman tanaman berbunga di seluruh Benua Afrika (MacKinnon, dkk. 1996).
Kalimantan memiliki 3.000 jenis pohon berkayu, termasuk 267 dipterocarps atau jenis tanaman keras untuk kayu komersial, di mana 58 persen di antaranya merupakan endemik. Pulau ini juga memiliki 2.000 spesies anggrek dan 1.000 spesies pakis, serta menjadi pusat distribusi tanaman karnivora, Nepenthes atau kantung semar. Yang perlu digarisbawahi, Kalimantan memiliki tingkat endemisitas tinggi untuk flora, yaitu mencapai 34 persen dari seluruh tanaman dari sektar 59 marga.
Ini berarti, jika spesies tanaman endemik ini hilang dari pulau ini, kita tak bisa lagi menemukannya lagi di mana pun. Tingginya endemisitas di Kalimantan ini juga dipengaruhi keragaman tipe tanah, terutama karena batuan muda di Kalimantan bagian utara. Selain itu, pulau ini juga memiliki keragaman bentang alam dan klimat, mulai dari rawa-rawa dataran rendah hingga batuan karst.
Sedangkan kekayaan fauna pulau ini meliputi 420 spesies burung dan 222 spesies mamalia, di mana 44 di antaranya endemik. Pulau ini juga memiliki 13 spesies primata, salah satu mamalia endemik dan ikonik adalah orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). Sejak 1994 sampai 2004, setidaknya 361 spesies baru ditemukan di Kalimantan, dan hal ini masih berlangsung hingga saat ini, misalnya gajah kerdil (Elephas maximus borneensis) yang baru terdeteksi awal 2000-an dan badak kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) yang baru terdeteksi pada 2013.
Komentar
Posting Komentar